Tidak Sesuai Target, 17 Bank Dikurangi Kuota KPR FLPP-Nya

KPR

Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kembali melakukan evaluasi untuk penyaluran KPR subsidi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) kepada bank penyalur untuk periode triwulan ketiga 2021.

Evaluasi untuk bank pelaksana penyalur KPR FLPP ini meliputi 12 parameter yaitu, lama waktu tunggu user Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (SiKasep), kepatuhan penyampaian berkas asli, sosialisasi dan edukasi, ketepatan sasaran penyaluran dana FLPP, tindak lanjut surat peringatan, penyiapann stiker/plat KPR sejahtera sesuai format, penyediaan seluruh data penyaluran dana FLPP, perubahan data debitur, penyampaian data debitur aktif, penyampaian rekening koran tepat waktu, rekonsiliasi dan jadwal angsuran serta pelunasan dipercepat.

PPDPP melakukan penilaian terhadap 41 bank penyalur yang terdiri dari 10 bank nasional dan 31 bank pembangunan daerah (BPD). Dari 12 parameter tersebut, Bank BTN, Bank Nagari, dan Bank Jambi Syariah memiliki performa terbaik. Sementara dari parameter layanan ada 10 bank terbaik yang meliputi kecepatan dalam merespon antrian SiKasep, kepatuhan penyampaian berkas asli dan sosialisasi yaitu Bank Sumut Syariah, Bank Jambi Syariah, Bank DKI, Bank NTB Syariah, Bank BNI, Bank Riau Kepri Syariah, Bank Riau Kepri, Bank BRI Agroniaga, Bank Sulselbar, dan Bank Nagari Syariah.

Menurut Direktur Utama PPDPP Arief Sabaruddin, PPDPP masih terus mengingatkan kepada seluruh bank penyalur untuk mempercepat layanan antrian user SiKasep. Dari evaluasi yang dilakukan secara berkala, rata-rata bank pelaksana melayani debitur hingga 100 hari lamanya dan ini dinilai masih terlalu lama.

“Sementara itu dari realisasi tertinggi 10 bank terbaik masih diraih oleh Bank BTN sebanyak 65.771 unit, Bank BTN Syariah 14.052 unit, Bank BNI 12.832 unit, Bank BRI 7.212 unit, Bank BJB 4.153 unit, Bank BSI 3.607 unit, Bank Mandiri 1.549 unit, Bank Kalbar 1.131 unit, Bank Sumselbabel 1.155 unit, dan Bank Sulselbar 1.007 unit,” katanya.

Berdasarkan rekapitulasi okupansi tingkat hunian rumah yang dibiayai dengan KPR FLPP ini yang telah melakukan akad kredit tahun 2016-2020 porsinya 74,8 persen dihuni sendiri dari 32.255 unit. Hal ini cukup menggembirakan karena rumah yang dibiayai KPR FLPP ini tingkat huniannya relatif tinggi setahun setelah akad kredit dilaksanakan.

Dari sisi keuangan, evaluasi juga dilakukan kepada bank pelaksana yang mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sebanyak 94 persen bank pelaksana juga cukup aktif menyampaikan data debiturnya, penyampaian rekening koran tepat waktu sebanyak 84 persen, pelunasan dipercepat 100 persen, dan rekonsiliasi dan jadwal angsuran mencapai 96 persen.

Hasil akhir evaluasi untuk periode ini memperlihatkan 17 bank pelaksana yang terdiri dari empat bank nasional dan 13 BPD akan mengalami pengurangan kuota FLPP karena kuotanya tidak tercapai sesuai target yang telah disepakati. Di sisi lain ada tiga BPD yang mengajukan penambahan kuota untuk diselesaikan bulan Oktober2001.

“Perlu kami tegaskan, batas akhir pengajuan dana FLPP tanggal 27 Oktober dan tanggal 29 Oktober merupakan batas akhir dari pencairan dana FLPP tahun 2021. Hingga 26 Agustus 2021 penyaluran dana FLPP telah mencapai 123.705 unit senilai Rp13,505 triliun atau 78,54 persen dari target. Total penyaluran dana FLPP sejak tahun 2010-2021 telah mencapai 888.560 unit senilai Rp69,103 triliun,” jelas Arief.