Ini Sektor Properti yang Dinilai Prospektif Pada 2022

News

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor residensial, industri dan logistik, serta ritel diperkirakan menjadi sektor prospektif di industri properti pada tahun ini. Senior Research Advisor Knight Frank Research Syarifah Syaukat mengatakan, pada pengujung 2021, Knight Frank telah melakukan survei dengan responden dari para penggiat bidang properti seperti pengembang, institusi keuangan, serta para advisor properti. "Dari survei tersebut kami mendapatkan bahwa para pelaku properti memperkirakan pada tahun ini terdapat tiga sektor yang diperkirakan akan menjadi sektor dengan performa terbaik yakni residensial, industri dan logistik, dan retail," ujarnya dalam laporan, Minggu (13/2/2022).

Knight Frank Indonesia juga memperkirakan bahwa tahun 2022 momentum bagi kebangkitan kembali sektor properti secara perlahan. Pada penggiat properti juga meyakini pertumbuhan properti diperkirakan akan bangkit atau rebound. Sementara itu, Country Head JLL Indonesia James Allan menuturkan pandemi merupakan periode yang menantang bagi sebagian besar pasar properti di Jabodetabek. "Namun demikian, beberapa sektor terbukti tangguh di tengah pandemi khususnya pergudangan logistik, pusat data atau data centre, dan rumah tapak. Ketiga sektor ini berpotensi untuk terus menjadi daya tarik bagi investor lokal dan asing," ucapnya.

Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan penjualan rumah tapak melanjutkan tren dari tahun 2020 dimana minat pasar pada rumah tapak teruji masih cukup tinggi. Adapun pada semester II/2021 terdapat penambahan launching rumah tapak baru sebesar 6.800 per meter persegi. Rerata kumulatif tingkat penjualan mencapai 89 persen, naik dari tahun 2020 yang berada di level 72 persen. "Hal ini terbukti dari para pengembang yang mengeluarkan produk baru tetap mendapatkan respon positif dari pasar," katanya.

Respon positif dari pasar ini dikarenakan permintaan yang didominasi oleh pengguna akhir atau end users. Faktor-faktor yang dipertimbangkan di mana salah satunya keterjangkauan harga yang membuat sektor ini tetap memiliki performa yang baik. Dilihat dari sisi keterjangkauan harga, hampir 70 persen produk yang terjual pada semester II/2021 memiliki harga di bawah Rp1,3 miliar. "Dengan program pemerintah insentif PPN dan relaksasi LTV, disertai promosi dan penawaran cara bayar yang fleksibel, serta kemudahan lainnya ini mendorong tingginya minat rumah tapak," tuturnya. Selain keterjangkaun harga, faktor reputasi pengembang, komitmen, fasilitas dan aksesbilitas yang baik menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli produk rumah tapak.

Menurutnya, permintaan yang cukup tinggi tersebut maka pengembang akan terus aktif meluncurkan produk baru, dan beberapa kawasan perumahan yang sebelumnya tidak aktif, akan ikut berkontribusi dalam memasarkan produk-produk mereka. “Di semester 2 ini, ada perumahan yang diluncurkan di wilayah Bogor yang juga banyak peminatnya," ucapnya. Kelanjutan insentif PPN di tahun ini diharapkan dapat menjaga sentimen positif di sektor perumahan tapak. Head of Logistics and Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah menambahkan beberapa proyek industri dan logistik masih dalam proses konstruksi dan direncanakan akan mulai beroperasi di pertengahan tahun 2022. Permintaan positif masih didominasi oleh penyedia jasa logistik yang terus berekspansi sehingga membuat membuat tingkat hunian ruang gudang modern di Jabodetabek meningkat ke angka 94 persen. "Sebagai salah satu penyewa ruang pergudangan modern di Jabodetabek, perusahaan e-commerce terlihat bekerja sama dengan penyedia jasa logistik berkontribusi dalam penggunaan gudang sebagai pusat distribusi dan ruang transit," ujarnya.